NAMA : TRI WAHYUNINGSIH
NPM : 29210342
KELAS : 3EB20
TULISAN SOFFSKILL 18
http://akirahydekinato.wordpress.com/2010/03/16/akuntansi-untuk-perusahaan-manufaktur/
A. PENDAHULUAN
Perusahaa manufaktur yang tidak begitu besar dan sederhana pross
produksinya,kadang-kadang menggunakan sistem akuntansi yang sederhana
yang didaarkan pada sistem persediaan periodik.pecatatan persedian yang
digunakan dalam proses produksi,penentuan barang yag masih dalam
proses,dan barang yang terjual,didasarkan pada peritungan fisik periodik
yang biasanya dilaukan pada akhir tahun.Dalam sitem seperti
ini,perhitungan fisik sangat dominan untuk meetuan persediaan akhir,dan
jumlah yang digunakan atau dijual selama periode.istem akuntansi seperti
di gambarkan di atas disebut
sistem akuntansi umum (general accounting system).Sistem akuntansi untuk operasi manufaktur yang didasarkan pada persediaan perpetual disebut
system akuntansi biaya(cost accounting system).sistem akuntasi untuk operasi manufaktur yang didasarkan pada persediaan perpetual disebut
sistem akuntasi biaya (cost acconting system)
B. PERBEDAAN POKOK AKUNTASI UNTUK PERUSAHAAN DAGANG DENGAN
AKUNTASI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Perbedaan yang terdapat dalam akuntasi untuk perusahaan manufaktur
dengan perusahaan dagang,disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sifat
operasinya.ciri pokok operasi perusahaan dagang adalah menjual barang
dagangan tanpa mengolah lebih dahulu barang yang dibelinnya.dengan
perkataan lain perusaahaan dagang tidak melakukan proses
produksi,sehingga barang yang dibeli langsung dijual.dengan demikian
penentuan harga pokok barang yang dibeli maupun dijual dalam perusahaan
dagang relative mudah.operasi perusahaan manufaktur tidak sesederhana
perusahaan dagang,karena perusahaan manufaktur membuat sendiri barang
yang akan dijualnya.Dalam perusahaan manufaktur,penentuan harga pokok
barang yang diproduksi dan harga pokok penjualan harus melalui beberapa
tahapan yang lebih rumit.perusahaan manufaktur harus menggabungkan harga
bahan yang dipakai,dengan biaya tenaga kerja dan biaya produksi lain
untuk dapat menentukan harga pokok barang yang siap untuk dijual.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perbedaan
ini,marilah kita bandingkan harga pokok penjualan dalam laporan
rugi-laba perusahaan dagang degan laporan rugi-laba perusahaan
manufaktur.
Perusahaan dagang
Perusahaan manufaktur
Harga pokok penjualan :……………. Harga Pokok Penjualan :…………..
Pers Awal brg dagangan…….Rp 14.200,00 Pers. Awal Barang Jadi………Rp 11.200,00
Pembelian bers………………
Rp 34.150,00 Harga Pokok Produksi (Lihat La-
Poran Harga Pokok Produksi)
Rp 170.500,00
Barang tersedia dijual……..Rp 48.350,00 Barang Tersedia Dijual…….Rp.181.700,00
Pers. akhir brg dagangan…..
Rp 12.100.00 Pers Akhir Barang Jadi…….
Rp. 10.300,00
Harga pokok penjualan…….
Rp 36.250.00 Harga pokok penjualan……
Rp.171.400,00
Perbedaan ini timbul karena perusahaan dagang langsung menjual barang
yang dibelinya,sedangkan peusahaan manufaktur harus membuat dulu barang
yang akan dijualnya.
Laporan harga pokok produksi menujukkan biaya untuk
menghasilkan produk yang dihasilkan perusahaan manufaktur.Adanya
perbedaan catatan dan teknik yang digunakan dalam akuntansi untuk
biaya-biaya ini,menyebabkan timbulnya perbedaan dalam karakteristik
akuntansi perusahaan manufaktur.
ELEMEN-ELEMEN BIAYA PRODUKSI
Dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu produk,perusahaan
manufaktur biasanya mengeluarkan berbagai macam biaya.Biaya yang
beraneka ragam tersebut dapat dikelompokan menjadi 3 golongan
besar,yakni :bahan langsung,tenaga kerja langsung,dan overhead pabrik.
Bahan Langsung
Bahan yang digunakan dan menjadi bagian dari produk jadi disebut
bahan langsung.sebagai
contoh,bahan langsung dalam sebuah pabrik sepatu terdiri dari
kulit,kain,benang,paku,dan lem. Bahan langsug harus dibedakan dari
bahan tak langsung
yang meliputi bahan-bahan perlengkapan pabrik seperti minyak dan oli
mesin,bahan bakar dan sebagainya.bahan tak langsung digunakan dalam
proses produksi,tetapi tidak menjadi bagian dari produk jadi.oleh karena
itu,biaya bahan tak langsung menjadi sukar untuk ditelusuri ke unit
barang tertentu atau proses tertentu.
Barang-barang yag dibeli perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi disebut
bahan baku (raw
material).biasanya bahan baku digunakan dalam proses produksi,seperti
halnya bahan langsung.pada saat dibeli bahan tersebut didebet ke
rekening pembelian bahan baku.akan tetapi jika bahan yang dibeli
tersebut akan digunakan sebagai bahan tak langsung,maka rekening yang
digunakan adalah perlengkapan pabrik.
Tenaga kerja langsung
Tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses mengubah bahan menjadi produk jadi disebut
tenaga
kerja langsung.tenaga
kerja tak langsung digunakan dalam proses produksi tetapi tidak bias
dihubungkan atau diterapkan pada suatu produk tertentu.oleh karena itu
tenaga kerja tak langsung tidak dapat dengan mudah dihubungkan atau
dibebankan pada unit atau proses tertentu. Contoh tenaga kerja tak
langsung adalah tenaga pengawas,tenaga pemeliharaan mesin,dan tenaga
pembersih.
Rekening yang digunakan untuk mencatat biaya tenaga kerja langsung
dalam system akuntansi umum disebut tenaa kerja langsung.Sedangkan biaya
kerja tak langsung dicatat dalam satu atau beberapa rekening tenaga
kerja tak langsung.
Overhead Pabrik
Biaya-biaya produksi lain,selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung disebut
overhead pabrik.Biaya-biaya ini disebut juga biaya produksi tak langsung.contoh biaya overhead pabrik
Contoh overhead pabrik
Tenaga kerja tak langsung Biaya listrik pabrik
Bahan tak langsung : Biaya gas pabrik
Bahan Pembersih Depresiasi mesin dan peralatan
Bahan Pelumas (oil dll) Amortisasi hak paten
Bahan bakar (solar dll) Penghapusan alat-alat kerja kecil
Reparasi gedung dan peralatan pabrik Asuransi tenaga kerja
Asuransi peralatan pabrik Pajak penghasilan tenaga kerja
Pajak bangunan pabrik Pabrik |
HARGA POKOK PRODUK DAN BIAYA PERIODE
Dalam perusahaan manufaktur terjadi baik
biaya periode maupun
harga pokok produk.Harga pokok produk dikeluarkan untuk tujuan mendapatkan barang dagangan atau menghasilkan produk jadi.
C. REKENING –
REKENING KHUSUS DALAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Rekening-rekening dalam buku besar sebuah perusahaan manufaktur,
biasanya lebih banyak dibandingkan dengan rekening buku besar sebuah
perusahaan dagang. Hal ini disebabkan oleh sifat operasi perusahaan
manufaktur yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan perusahaan
dagang.
Rekening yang khusus dijumpai dalam perusahaan manufaktur, antara
lain: Perlengkapan Pabrik, Biaya Pemakaian Perlengkapan Pabrik,
Persediaan Bahan Baku, Persediaan Barang dalam Proses, Persediaan Barang
Jadi, dan Barang dalam Proses. Berikut ini akan dijelaskan beberapa
rekening yang biasa dijumpai dalam perusahaan manufaktur.
Rekening Pembelian Bahan Baku
Perusahaan menggunakan sistem akuntansi umum untuk kegiatan
manufakturnya, maka semua biaya bahan langsung dicatat dengan mendebet
rekening Pembelian Bahan Baku. Apabila perusahaan menggunakan sistem
voucher, maka dalam voucher register bisa disediakan kolom khusus untuk
pendebetan ke dalam rekening pembelian Bahan Baku.
Rekening Ikhtisar Biaya Produksi
Dalam perusahaan manufaktur biasanya digunakan satu buah rekening
untuk menampung pembebanan semua biaya produksi, baik biaya produksi
langsung maupun tidak langsung.
Rekening Persediaan Bahan Baku
Perusahan menggunakan sistem akuntansi umum, maka persediaan bahan
baku yang ada dalam persediaan (yang ada di gudang) harus ditentukan
dengan cara melakukan perhitungan fisik atas persediaan. Jumlah
persediaan yang ditentukan melalui perhitungan fisik tersebut, kemudian
melalui jurnal penutup dicatat ke dalam rekening Persediaan Bahan Baku.
Jumlah saldo pada akhir periode yang nampak dalam rekening ini, akan
menjadi saldo awal untuk periode berikutnya.
Rekening Persediaan Barang Dalam Proses
Setiap perusahaan manufaktur biasanya mempunyai sejumlah barang yang
masih berada dalam proses pengerjaan. Barang-barang yang masih dalam
keadaan belum selesai dikerjakan yang ada pada akhir periode disebut
persediaan barang dalam proses.
Rekening Persedian Barang Jadi
Persediaan barang jadi dalam perusahaan manufaktur
hamper sama dengan persediaan barang dagngan dalam sebuah perusahan
dagang, keduanya merupakan barang yang sudah siap untuk dijual.
Perbedaanya ialah bahwa persedian barang dagangan diperoleh malalui
pembelian, sedangkan persediaan barang jadi diperoleh melalui proses
produksi.
LAPORAN RUGI LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Laporan rugi-laba pada perushaan manufaktur mirip dengan laporan rugi
laba pada perusahaan dagang. Keduanya melaporkan pendapatan
(penjualan), biaya penjualan dan biaya umum & administrasi. Namun
pada bagian harga pokok penjualan nampak perbedaan yang agak menonjol.
Dalam laporan rugi-laba perusahaan manufaktur, “Pembelian” diganti
dengan “Harga Pokok Produksi” dan “Persediaan Barang Dagangan” diganti
dengan “Persediaan Barang Jadi”
Laporan harga pokok produksi
Elemen-elemen biaya produksi terdiri dari biaya bahan langsung, biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Laporan harga pokok
produksi dirancang untuk memberikan informasi mengenai biaya-biaya
tersebut, seperti terlihat dalam gambar 10-5 (Buku Hlm.10-5). Dalam
laporan tersebut nampak bahwa bagian 1 lapora harga pokok produksi
menunjukkan biaya pemakaian bahan langsung. Format bagian 1 ini mirip
sekali dengan format harga pokok penjualan pada laporan rugi-laba
perusuhaan dagang.
Bagian 2 menunjukkan biaya tenaga kerja langsung, sedangkan bagian 3
menunjukkan biaya overhead pabrik. Apabila biaya overhead pabrik tidak
terlalu banyak jenisnya, maka biaya-biaya tresebut dapat didaftar dalam
laporan harga pokok produksi seperti nampak dalam gambar 10-5. Akan
tetapi iika jenis barang overhead cukup banyak, maka dalam laporan harga
pokok produksi hanya dilaporkan total biaya overhead, sedangkan rincian
biaya overhead dapat dilaporkan dalam suatu daftar tersendiri yang
merupakan lampiran dri laporan harga pokok produksi.
Bagian 4 merupakan bagian akhir dari laporan harga pokok produksi.
D. NERACA LAJUR PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Lihat halaman 418 ( Buku Al Haryono Jusuf )
Seperti terlihat dalam neraca lajur pada gambar 10-6,kolom “Neraca
Saldo Setelah Disesuaikan”dapat dihilangkan untuk menghemat ruang dan
waktu penngerjaan.Neraca lajur dibuat perusahaan dengan tujuan:
1. Untuk melihat pengaruh penyesuaian atas rekening-rekening sebelum
membuat penyesuaian dalam jurnal dan membukunya ke dalam rekening yang
bersangkutan.
2. Memisah-misahkan rekening-rekening (setelah disesuaikan)
berdasarkan laporan yang akan menjadi tempat pelaporan
masing-masingrekening.
3. Menghitung dan menguji keteletian perhitungan laba bersih.
PERBEDAAN NERACA LAJUR PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN PERUSAHAAN DAGANG
Apabila kita bandingkan antara neraca lajur pada sebuah perusahaan
manufaktur deenga neraca lajur pada perusahaan dagang (lihat Bab 7
Dasar-dasar Akuntansi jilid 1),terlihat
bahwa dalam neraca lajur perusahaan manufaktur terdapat sepasang kolom
tambahan, yaitu kolom “Laporan Harga Pokok Produksi”. Seperti telah
diterangkan di atas, dalam perusahaan manufaktur diperlukan laporan
tambahan yanag disebut laporan harga pokok produksi. Penambahan kolom
tersebut dalam neraca lajur dimaksudkan agar penyusunan laporan harga
pokok produksi dapat dilakukan dengan mudah,seperti halny laporan
rugi-laba dan neraca.
Pembutan dan pengerjaan kolom penyesuaian pada prisipnya tidak
berbeda dengan perusahaan dagang. Begitu pula cara pengerjaan bagian
lain dari neraca lajur, tremasuk penentuan rugi-laba pada perinsipnya
sama dengan pengerjaan neraca lajur dalam perusahaan dagang.
PENYUSUNAN NERACA LAJUR PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Penyusunan neraca lajur pada perushaan manufaktur dimulai dengan
memasukkan saldo-saldo rekening yang belum disesuikan ke dalam kolom
“Neraca Saldo”.selanjutnya dimasukkan juga penyesuaian yang diperlukan
pada kolom “penyesuian”.
Informasi untuk Penyesuaian PT Semeru
Penyesuaiaan yang nampak pada neraca lajur (Gambar 10-6) di atas dibuat berdasarkan informasi sebagai berikut :
(a) Kerugian piutang ditaksir 0,5% dari penjualan, atau Rp 1.550,00.
(b) Pemakaian perlengkapan kator Rp 100,00.
(c) Pemakaian perlengkapan pengangkutan Rp 250,00
(d) Pemakaian perlengkapan pabrik Rp 500,00.Disamping itu dipakai pula bahan baku seharga Rp 100,00 sebagai perlengkapan pabrik.
(e) Biaya ansuransi pabrik periode ini Rp 1.100,00, dan biaya asuransi biaya peralatan angkutan Rp 300,00.
(f) Peralatan kerja yang masih ada berjumlah Rp 1.100,00.Pemakaian
peralatan kerja pada Pt Semeru diperlukan seperti halnya pemakaian
perlengkapan pabrik.
(g) Depresiasi peralatan angkutan Rp 2.100,00.
(h) Depresiasi perlengkapan kantor Rp 200,00.
(i) Depresiasi mesin pabrik Rp 3.500,00.
(j) Depresiasi gedung pabrik Rp 1.800,00.
(k) Amortisasi paten per tahun adalah 1/17 dari harga perolehan hak paten atau Rp 800,00.
(l) Pada akhir tahun,upah yang harus di bayar terdiri dari : tenaga
kerja langsung Rp 400,00; tenaga kerja tak langsung Rp 60,00; dan upah
pegawai pengangkutan Rp 80,00.Karyawan lainya dibayar secara bulanan
pada tiap akhir bulan.
(m)Masih harus bayar bunga atas utang wesel Rp 2.000,00.
(n) Pajak penghasilan berjumlah Rp 32.600,00.
Memasukan Saldo setelah Disesuaikan ke dalam Kolom Laporan yang Sesuai di Nerca Saldo
Setelah penyesuaian selesai di kerjakan,tahap berikutnya adalah
mengabungkan saldo dalam kolom Neraca saldfo dalam kolom Penyersuian
(kalau ada), dan memasukkan hasilnya dalam kolom laporan yang
sesuai.Pos-pos yang dimasukkan kedalam Harga Pokok Produksi terdiri dari
bahan baku,persediaan barang dalam proses, tenaga kerja langsung,dan
semua biaya yang termasuk dalam overhead pabrik.Pos-pos yang di
cantumkan dalam kolom laporan Rugi-Laba terdiri dari persediaan awal
barang jadi,pendapatan,biaya penjualan,biaya umum dan administrasi,dan
biaya lainya.Pos-pos lainya dilaporkan kedalam neraca (aktiva,
kewajiban, dan modal).
Memasukkan Jumlah Persedian Akhir
Setelah pos-pos dalam neraca saldo yang telah disesuaikan dimasukkan
ke dalam kolom-kolom untuk laporan yang sesuai di neraca lajur,maka
tahap berikutnya adalah memasukkan jumlah-jumlah persediaan akhir ke
dalam neraca tersebut. Oleh karena persediaan bahan baku dan persediaan
barang dalam proses dikurangkan dalam laporan harga pokok produksi, maka
jumlah persediaan akhir bahan baku dan persediaan akhir barang dalam
proses dimasukkan pada kolom kredit Laporan Harga Pokok Produksi. Di
lain pihak, karena persediaan akhir merupakan aktiva, maka kedua saldo
persedian akhir tersebut harus di cantumkan juga pada sisi debet kolom
Nerca.
Dalam Gambar 10-6 di atas, persediaan akhir bahan baku dimsalkan
berjumlah Rp9.000,00, dan persedian akhir barang dalam proses dimisalkan
berjumlah Rp7.500,00. Kedua jumlah persediaan akhir tersebut ditentukan
berdasarkan perhitungan fisik pada akhir periode.
Persediaan akhir barang jadi juga ditentukan berdasarkan perhitungan
fisik dan akhir tahun. Dalam Gambar 10-6, dimisalkan bahwa Pt Semeru
memiliki persediaan akhir barang jadi sebesar Rp10.300,00. Jumlah
persediaan akhir barang jadi tersebut dimasukkan kedalam kolom kredit
Laporan Rugi-Laba dan selain itu juga di cantumkan pada kolom debet
Neraca, karena persediaan merupakan aktiva.
Setelah persediaan akhir dimasukkan ke dalam neraca lajur, maka tahap
selanjutnya adalah menjumlahkan kolom-kolom Laporn Pokok Produksi.
Selisih kolom debet dan kolom krdit Laporan Harga Pokok Produksi
merupakan jumlah harga pokok produksi pada periode yang bersangkutan.
Jumlah tersebut harus dicantumkan pada kolom kredit Harga pokok
Produksi, sehingga jumlah kolom debet sama dengtan kolom kredit. Jumlah
harga pokok produksi juga dicantumkan pada kolom debet di kolom lporan
Rugi-Laba. Langkah selanjutnya adalah menyelesaikan neraca lajur
dengan cara yang sama seperti dalam neraca lajur untuk perusaaan dagang.
PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN
Setelah neraca lajur selesai dikerjakan,maka langkah berikutnya
adalah menyusun laporan keuangan yang datanya telah tersedia dalam
neraca lajur. Seperti telah diterangkan pada Bab 5
Dasar-dasar Akuntansi jilid 1 ,tujuan
utama pembuatan neraca lajur adalah untk mempermudah menyusun laporan
keuangan. Dengan telah selesainya pembuatan neraca lajur di atas,maka
lapopran keuangan dapat disusun dengan lebih mudah. Laporan Harga Pokok
Produksi disusun dengan mengutip data yang tercan tum dalam kolom Harga
Pokok Produksi.Demikian pula laporan rugi-laba dan nerca disusun dengan
mengutip data dari dua pasang kolom terakhir di naraca lajur.
JURNAL PENYESUAIAN
Pembuatan jurnal penyesuaian pada perusahaan manufaktur pada dasarnya
tidak bebeda dengan jurnal penyesuaian pada perusahaan dagang. Untuk
setiap ayat penyesuaian yang tercantum pada kolom penyesuaian di neraca
lajur, harus dibuat jurnal penyesuaian yang formal dalam jurnal umum.
Dalam contoh PT Semeru di atas (lihat “Informasi untuk penyesuain …”
pada hlm. 420-421) dan penyesuain yang telah dikrjakan dalam kolom
penyesuaian yang telah dikerjakan dalam kolom penyesuaian di neraca
lajur, terlihat bahwa pembuatan jurnal penyesuaian di neraca lajur,
terlihat bahwa pembuatan jurnal penyesuaian pada perusahaan manufaktur
tidak berbeda dengan penyesuaian yang di buat pada perusahaan dagang.
Namun demikian khusus untuk informasi penyesuaian butir (d), jurnal
penyesuaian agak istemewa. Pada umumnya sisi debet rekening Perlengkapan
Pabrik digunakan untuk mencatat pembelian segala macam perlengkapan
pabrik yang digunkan perusahaan. Dalam kasus PT Semeru di atas, selain
dari perlengkapan pabrik tersebut digunakan pula sejumlah bahan baku
yang berfungsi sebagai perlengkapan pabrik (pemakaian bahan baku ini
tidak menjadi bagian dari produk). Dalam informasi (d) tersebut di
terangkan bahwa pemakaian perlengkapan pabrik selama periode tersebut
adalah RP500,00, selain itu di gunakan pula bahan baku seharga Rp100,00,
yang berfungsi sebagai perlengkapan pabrik. Oleh karena itu jurnal
pemakaian perlengkapan pabrik adalah sebagai berikut :
Des. 31 Biaya Perlengkapan Pabrik ……………………… Rp 600,00
Perlengkapan Pabrik……………………….. Rp 500,00
Pembelian Bahan Baku …………………….. Rp 100,00
(Untuk mencatat pemakaian perlengkapan )
Setelah rekening pembelian Bahan Baku dikredit RP100,00,maka sisanya
sebesar Rp85.000,00 akan merupakan pemakain bahan baku dalam periode
tersebut, dan dilporkan dalam laporan Harga Pokok Produksi .
JURNAL PENUTUP
Rekening-rekening yang digunakan menghitung harga pokok produksi pada
suatu periode akuntansi. Harus ditutup pada akhir periode. Biasanya
penutupan dilakukan melalui rekening ikhtisar biya produksi dan
selanjutnya rekening ikhtisar biaya produksi ditutup ke rekening laba –
rugi.
Jurnal rekening menutup rekening-rekening biatya semua PT. Semeru adalah sebagai berikut :
Des 31 Ikhtisar laba rugi………………………………….. Rp. 187.000,00
Persediaan bahan baku……………….. Rp. 8.000,00
Pers. Barang dalam proses………….. Rp. 2.500,00
Pemb. Bahan baku…………………….. Rp. 85.000,00
Pemb. Bahan baku…………………….. Rp. 1.500.00
Tenaga kerja langsung……………….. Rp. 60.000,00
Tenaga kerja tak langsung………….. Rp. 9.000,00
Pengawas…………………………………. Rp. 6.000,00
Perlengkapan pabrik………………….. Rp. 2.600,00
Reparasi & pemeliharan Mesin…… Rp. 2.500,00
Pajak bumi dan bangunan pabrik… Rp.
1.900,00 Biaya perlengkapan
pabrik…………. Rp. 600,00
Asuransi pabrik………………………….. Rp. 1.100,00
Penghapusan peraatan kerja…………. Rp. 200,00
Depresiasi mesin…………………………. Rp. 3.500,00
Depresiasi gedung ……………………… Rp 1.800,00
Amortisasi paten…………………………. Rp. 800,00
(Untuk menutup rekening – rekening biaya
Produksi yang bersaldo debet)
Des 31 Pers. Barang baku………………………. Rp. 9.000,00
Pers. Barang dalam proses…………… Rp. 7.500,00
Ikhtisar biaya produksi…….. Rp. 16.500,00
( Untuk mencatat pers. Akhir bahan baku dan pers.
Akhir barang dalam proses produksi dan mengurangkan
Dari rekening ikhtisar biaya produksi)
Ayat – ayat jurnal diatas dia mbil inforamsi yang terdapat pada kolom
harga pokok produksi dalam neraca (gambar 10-6). Bandingkan ayat
jurnal pertama dengan informasi yang terdapat pada sisi debet kolom
harga pokok produksi.
Perhatikan bahwa jurnal didebetkan pada rekening ikhtisar biaya
produksi diambil dari total kolom tersebut dikreditkan untuk menutupnya.
Ayat jurnal yang kedua mempunyai fungsi yaitu :
- untuk mencatat persedian akhir bahan baku dan pers. Akhir barang dalam proses.
- untuk mengurangkan kedua jumlah yang masih berstatus sebagai pers. Dari ikhtisar biaya produksi.
Pengaruh dari kedua ayat jurnal diatas ialah bahwa rekening ikhtisar
biaya produksi akhirnya akan menunjukkan saldo debat sebesar Rp.
170.500,00. jumlah tersebut tidak lain adalah harga pokok produksi untuk
periode yang bersangkutan.
Saldo rp. 170.500,00 dalam rekening ikhtisar biaya produksi ditutup
ke rekening laba rugi bersama dengan penutupan rekening-rekening non
biaya produksi. (biaya-biaya penjualan dan biayay-biaya umum &
administrasi serta biaya lainnya ). Seperti nampak pada kolom debet laba
rugi dineraca lajur. Ayat jurnal penutup. Yang diperlukan adalah
sebagai berikut :
Des. 31 Laba Rugi………………………………………………. Rp. 274.200
Pers. Barang Jadi………………………….. Rp. 11.200
Gaji Pegawai Penjualan…………………. Rp. 18.000
Biaya Adventensi………………………….. Rp. 5.500
Upah Peagawai Pengangkutan………… Rp. 12.000
Gaji Pegawai Kantor………………………. Rp. 15.700
Macam-Macam Biaya Umum………….. Rp. 200
Biaya Bunga………………………………….. Rp. 4000
Kerugian Piutang …………………………… Rp. 1.550
Biaya Perlengkapan Kantor……………… Rp. 100
Biaya Perlengkapan Pengangkutan……. Rp. 250
Biaya Asuransi Peralatan Angkutan…… Rp. 300
Biaya Depresiasi Peralatan Angkutan … Rp. 2.100
Biaya Depresiasi Peralatan Kantor…….. Rp. 200
Psjsk Penghasilan…………………………….. Rp. 32.600
Ikhtisar Biaya Produksi………………………. Rp. 170.500
Setelah dibuat ayat jurnal diatas, selanjutnya jurnal penutup lain
yang diperlukan adalah untuk menutup rekening – rekening yang masih
tertinggal di kolom rugi laba pada gambar 10-6.
Des 31 Persediaan barang jadi….. rp. 10.300,00
Penjualan ……………………. rp. 310.000,00
Rugi laba………………………… rp. 320.300,00
(untuk menutup rekening penjualan dan
Untuk mencatat persediaan akhir brg jadi)
Des 31 Rugi Laba……………………. rp. 46.100,00
Laba ditahan…….. rp. 46.100,00
(Untuk menutup rekening Laba Rugi)
E. MASALAH PENILAIAN PERSEDIAAN PADA PERUSAHAN MANIFAKTUR
Apabila perusahan manufaktur menggunakan sistem akuntansi umum untuk
kegiatan produksinya, maka perhitungan fisik persedian memegang peranan
yang sangat penting. Hasil perhitungan fisik umntuk masing-masing jenis
persediaan ( bahan baku, barang dalam proses, barang jadi ).tersebut
kemudian dinilai berdasarkan dalam harga yang layak. Penilaian
persediaan akhir bahan baku biasanya tdk begitu sulit karena persediaan
bentuknya masih serupa dengan keadaan ketika dibeli. Akan tetapi
penilaian atas persediaan akhir barang dalam proses dan barang jadi
biasanya tidak mudah. Kedua persediaan tersebut mengadung unsur bahan
baku yang telah diberi tambahan sejumlah tenaga kerja langsung overhead
pabrik. Keduanya sudah tidak sama lagi dengan keadaan ketika dibeli.
Oleh karena itu penentuan nilai kedua jenis persediaan itu menjdi tidak
sederhana. Karena perlu menetapkan nilainya perlu ditaksir jumlah bahan
baku, tenaga kerja langsung, dan overhead yang telah dimasukan kedalam
masing-masing barang tersebut.
PENAKSIRAN BIAYA BAHAN LANGSUNG DALAM PERSEDIAAN AKHIR
Penaksitran biaya bahan baku lansung terdapat dalam barang dalam
proses dan barang jadi biasanya tidak begitu sulit. Setelah jumlah unit
barang proses penghitungan, maka bagian produksi biasanya dapat
diperkirakan berapa banyak bahan langsung yang terkandung dalam
tiap-tiap barang dalam proses, dan selanjutnya dapat ditentukan berapa
harga bahan langsung yang terkandung dalam persediaan bahan dalam
proses. Hal yang sama juga dapat dilakukan untuk menaksir harga bahan
langsung yang terdapat pada persediaan barang jadi.
PENAKSIRAN BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG DALA PERSEDIAAN AKHIR.
Proses penaksiran biaya tenaga kerja langsung dalam persediaan akhir
barang dalam proses persediaan barang jadi pada dasarnya sama dengan
penaksiran bahan baku. Penaggung jawab dibagian produksi harus menaksir
presentase penyelesaian barang dalam proses dan menghitung biaya tenaga
kerja langsung yang dibebankan pada persediaan akhir barang dalam proses
tersebut. Hal yang sama dilakukan pula untuk menaksir biaya tenaga
kerja langsung yang dapat dibebenkan pada persediaan akhir barang jadi.
F. LATIAHN DAN PEMBAHASAN
Latihan 1 (Lihat Latihan 10-1 Buku Al Haryono hlmn 432)
|
| LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI |
| Tahun 1998 |
|
|
| Bahan baku Langsung |
Rp25.000.000 |
| Tenaga kerja langsung |
Rp15.000.000 |
| Biaya Overhead |
Rp20.000.000 |
| Jumlah Biaya Produksi |
Rp60.000.000 |
| BDP Akhir |
Rp 5.000.000 |
| Harga Pokok Produksi |
Rp55.000.000 |
| Persediaan Produk Jadi (Akhir) |
Rp18.000.000 |
| Harga Pokok Penjualan |
Rp37.000.000 |
Latihan 2 (Lihat Latihan 10-5 Buku Al Haryono hlmn 434)
|
| PT TELUK BATANG |
| LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI |
| Tahun 1989 |
|
|
|
|
| Bahan Langsung : |
|
|
|
| Persediaan Bahan baku Langsung (Awal) |
Rp75.000.000 |
|
|
| Pembelian |
Rp182.000.000 |
|
|
| Bahan baku Tersedia Digunakan |
Rp257.000.000 |
|
|
| Persediaan bahan baku (Akhir) |
Rp70.000.000 |
- |
|
| Bahan Baku Yang Digunakan |
|
Rp187.000.000 |
|
| Tenaga kerja langsung |
|
Rp125.000.000 |
|
| OverHead : |
|
|
|
| Tenaga kerja langsung |
Rp 40.000.000 |
|
|
| Listik & Gas |
Rp 35.000.000 |
|
|
| Asuransi |
Rp 6.000.000 |
|
|
| Pemeliharaan Mesin Pabrik |
Rp 8.000.000 |
|
|
| Perlengkapan Pabrik |
Rp 6.000.000 |
|
|
| Depresiasi Gedung pabrik |
Rp 9.000.000 |
|
|
| Depresiasi Peralatan |
Rp 26.600.000 |
+ |
|
| Total Biaya Overhead |
|
Rp130.600.000 |
+ |
| Total Biaya Produksi |
|
|
Rp442.600.000 |
| Persediaan BDP (Awal) |
|
|
Rp 21.200.000 |
| Total BDP Tahun Ini |
|
|
Rp463.800.000 |
| BDP Akhir |
|
|
Rp -23.800.000 |
| Harga Pokok Produksi |
|
|
Rp440.000.000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
| LAPORAN HARGA POKOK PENJUALAN |
|
|
| Tahun 1989 |
|
|
|
|
|
|
|
| Barang Jadi Tersedia Dijual |
Rp440.000.000 |
|
|
| Persediaan Barang Jadi (Awal) |
Rp 10.000.000 |
|
|
| Harga Pokok Penjualan |
Rp430.000.000 |
|
|
Latihan 3 (Lihat Latihan 10-8 Buku Al Haryono hlmn 436)
|
|
|
|
| PT JATAYU |
| Harga Pokok Barang Dalam Proses |
|
|
|
|
| Bahan baku |
|
Rp23,000,000.00 |
|
| Tenaga Kerja |
|
Rp31,000,000.00 |
|
| BOP |
|
Rp11,000,000.00 |
|
|
Total biaya produksi : |
Rp65,000,000.00 |
|
| Saldo Awal |
|
Rp8,000,000.00 |
|
|
Total BDP |
|
Rp73,000,000.00 |
|
|
|
|
| Harga Pokok Produksi : |
|
|
| Pesanan B-78 |
|
Rp3,000,000.00 |
|
| Pesanan G-65 |
|
Rp19,000,000.00 |
|
| Pesanan Y-11 |
|
Rp39,000,000.00 |
|
|
Total Harga Pokok Produksi : |
Rp61,000,000.00 |
|
BDP : |
|
Rp12,000,000.00 | |